Fanfiction SEAL Online (Heart of Sword) Chapter 1: Pembawa Pesan

Home » , , , » Fanfiction SEAL Online (Heart of Sword) Chapter 1: Pembawa Pesan
Cerita ini di adaptasi dari Seal Online yang berlatar belakang dunia Shiltz.


Chapter 1: Pembawa Pesan

Sorak sorai para penonton yang membahana dari dalam arena pertunjukan, sama sekali tidak menarik minatku. Aku merogoh secarik kertas di kantongku, memandangi tiket pertandingan duel warrior melawan Knight of Darkness yang Bibi Sofia berikan tadi pagi kepadaku sekali lagi. Rasa heran yang begitu besar muncul kembali di benakku. Mengapa mereka semua bisa begitu senang menikmati tontonan yang berisikan adegan pertumpahan darah. Apa yang mereka tertawakan sebenarnya?

Berusaha untuk tidak peduli, aku mencoba menghitung helai daun yang dengan sengaja kupatahkan dari rantingnya karena bosan. Matahari bersinar terik sekali hari ini seakan-akan mencoba menghalangi siapapun yang ingin beraktivitas. Tetapi sayang sekali, tampaknya sengatan sang surya kali ini tidak menciutkan semangat para warrior-warrior muda untuk berlatih di tengah lapangan. Rasa penasaran kembali muncul dalam benakku. Mengapa mereka tidak merasakan kulit mereka terbakar? Bahkan aku yang terdampar di bawah pohon rindang sekalipun masih merasa gerah.

Aku terus bergumam mengomentari semua hal yang terlihat janggal oleh otakku. Ketiadaan kegiatan yang biasanya kukerjakan sehari-hari lama-lama membuatku gila. Sejak kepergian kakakku, Halvar, aku selalu bermuram durja, tidak ingin berdagang dan bernyanyi sesuai rutinitas kaum gipsy. Menunggu kepulangannya adalah satu-satunya amanat yang diberikannya kepadaku.

Kemudian aku dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba menarikku dengan keras kebelakang, menggeser tong kayu yang sedang kududuki.

“Tebak siapa aku,” bisik seorang laki-laki seraya menutupi mataku dengan kedua tangannya yang kasar. Aku berusaha menyembunyikan rasa ingin tahuku dengan menjawabnya malas-malasan dan sikap acuh tak acuh.

“Tidak tahu,” jawabku asal-asalan.

“Ah Kana! Bersemangatlah sedikit,” seru si pemilik suara tersebut dengan kesal. Ternyata dia adalah Vyriel, satu-satunya sepupuku yang ku kenal dengan baik. Kuputar tubuhku. Tidak mau menghabiskan energiku untuk mendongak keatas hanya sekedar berbincang-bincang dengannya, maka aku menyuruhnya duduk disampingku. Badannya tinggi dan tegap, akan sulit bagiku untuk berbicaranya dengannya jika dia tidak duduk.

“Kau berharap aku akan melakukan apa di hari yang panas seperti ini?” tanyaku setelah dia menempatkan dirinya disebelahku.

“Ayo menonton pertandingan di arena pertunjukan itu bersamaku,” ujarnya santai sambil meletakkan pedang merah panjangnya yang memiliki garis biru dan putih di tanah.

“Kau bercanda,” balasku.

Lelaki berbaju biru dengan sisik berwarna emas sebagai hiasannya itu memutar bola matanya, “Aku serius. Pertandingannya sangat menarik sekali. Aku sudah menonton separuh pertandingan, tapi sesak sekali di dalam sana. Seorang warrior telah kehilangan satu tangannya saat menghindar serangan Knight of Darkness. Waktunya tidak tepat dan ia terlambat. Knight of Darkness mengayunkan pedang Evil Eye nya dan darah bergelimang dimana-mana.”

Ceritanya berhenti saat dia memperhatikan ekspresi mualku. Dia ingat bahwa aku tidak menyukai hal-hal semacam itu. Lalu tak satupun diantara kami yang berbicara, hening. Lantas warrior itu kembali membuka percakapan, “Apa yang kau lakukan disini?”

“Menunggu ayahmu selesai menghadap Greyum,” tuturku tanpa basa-basi.

“Greyum? Ketua Citizen Militia Silon itu? Untuk apa?”

“Menanyakan tentang kakakku.”

“Belum ada kabar dari Halvar?“

“Kalau sudah, aku tidak akan berada di Silon berlama-lama,” tukasku dengan nada penekanan dengan maksud ingin dia menghentikan semua pertanyaan konyol nya. Aku meliriknya sedikit, raut sedih menghiasi wajahnya, “Oh maafkan aku Vyriel. Aku tidak bermaksud untuk mengatakan seperti itu kepadamu.”

“Ah, traktir aku sebotol vodka dan satu daging jika kau ingin aku memaafkanmu,” candanya.

“Hm, baiklah,” kataku beranjak pergi menuju kios pedagang keliling. Ketika aku bertanya apakah perempuan penjaga toko itu menjual vodka, Vyriel memanggilku. Aku menoleh kearahnya dan melihat Paman Adalmar berdiri di dekatnya. Membatalkan pesananku, aku menghampirinya.

“Bagaimana, Paman?”

“Anak buah Greyum bilang dia tidak mendapat informasi apapun. Tidak ada tanda-tanda Halvar Fathius meminta bantuan kepada rekan-rekannya,” jelas Paman Adalmar sambil mengelus-elus jenggotnya. Kerutan di dahinya nampak jelas saat dia berusaha mengingat-ingat kembali diskusinya dengan orang-orang yang baru saja ditemuinya.

“Apakah dia masih hidup?” lanjutku.

Orang tua bertubuh gempal itu mengangkat tangannya dan meletakkannya di kepalanya, “Tentu saja Kana! Butuh berapa kali aku harus meyakinkanmu? Kami tidak menemukan tubuh Halvar di tumpukan mayat para gipsy itu. Kami sudah memeriksanya dengan seksama dan tidak ada jejak yang ditinggalkan Halvar sama sekali sebagai petunjuk.”

“Apa Halvar tidak memberitahumu kemana ia akan pergi, Kana?” timpal Vyriel.

Aku menggeleng, “Dia hanya berpesan untuk menunggunya disini.”

“Kalau begitu tunggu saja dengan sabar,” sarannya.

“Sudah hampir tiga bulan aku menunggu! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Semakin hari aku semakin yakin bahwa ia telah mati,” sahutku dengan sedikit berteriak mengacungkan tangan kananku.

Paman Adalmar memelukku dengan lembut, “Jangan pesimis, sayang. Kakakmu pasti sedang menghadapi suatu masalah sekarang. Lebih baik kau mendoakannya agar urusannya berjalan lancar dan sesegera mungkin menjemputmu.”

Aku menurunkan lengan Paman Adalmar yang merengkuh bahuku, “Aku harus mencarinya.”

“Mencari kemana?” tanya Vyriel dengan mata terbelalak.

“Kemana saja.”

“Kau gila! Tanpa ada petunjuk seperti ini, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengarungi Shiltz mencari Halvar. Kau pikir dunia ini sempit? Dan bagaimana jika Halvar mencarimu juga? Kalian mungkin akan berputar-putar dan tidak akan pernah bertemu seumur hidup kalian.”

“Kau berlebihan,” kataku.

“Ha! Pikiran warasku kau sebut berlebihan?”

“Waras dan bodoh itu bedanya tipis, Vyriel Lerevient.”

“Kau yang bodoh karena tidak bisa membedakan antara bodoh dengan waras.”

“Cukup Kana! Cukup Vyriel! Kau tidak boleh mengatakan sepupumu gila, Vyriel. Dan kau Kana, kau juga tidak boleh memutuskan apa yang akan kau lakukan sebelum berpikir lebih lanjut terlebih dahulu,” sela Paman Adalmar menengahi pertengkaran kami.

Di tengah keributan itu, tiba-tiba ada seorang bocah yang menyeruak diantara kami. Di tangannya terdapat sebuah gulungan perkamen dengan pita merah.

“Permisi Sir Adalmar, ada pesan yang ditujukan untuk anda,” ucapnya mengulurkan kertas yang dipegangnya.

“Ah, Alva. Apakah Caleb yang mengutusmu kemari?”

“Ya, Sir. Tuan muda Caleb, Sir,”

“Terima kasih, Alva. Kau boleh pergi sekarang,” balas Paman Adalmar menyelipkan uang koin 5 cegel ke tangan lusuh Alva dan langsung membuka surat itu, membacanya keras-keras.

Dear Paman Adalmar,
Atas permintaanmu, aku telah berjanji akan memberitahumu apabila aku melihat Halvar. Kemarin aku bertemu dengannya di depan Asosiasi Blacksmith. Aku memanggilnya tetapi ia segera berlari ketika aku berjalan kearahnya. Aku merasa ada sesuatu hal yang ganjil dengannya. Ia tampak gugup dan tersesat seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

Aku bertanya kepada para penambang-penambang yang lainnya, mereka mengaku sudah beberapa kali Halvar terlihat di Kota Zaid beberapa hari ini. Tetapi aku tidak melihat Kana bersamanya. Semoga tidak ada sesuatu yang terjadi padanya.

Mungkin hanya itu saja, tidak ada hal lain yang dapat kubagi denganmu. Salam untuk Bibi Sofia dan Vyriel.
-Caleb

Paman Aldamar melipat surat itu dan menoleh ke arahku. Aku terdiam membisu, sibuk memikirkan berbagai alasan mengapa kakakku berada di Kota Zaid, kota para penambang.

Vyriel bergerak-gerak tak sabar menanti reaksiku selanjutnya, “Apa Halvar pernah mengungkit-ungkit tentang Zaid di depanmu, Kana?”

Aku menelan ludahku, “Sepanjang ingatanku, tidak pernah.”

“Kau yakin, Kana?”

“Seratus persen, Vyriel.”

Warrior muda itu mendengus. Mulutnya membuka hendak mengatakan sesuatu lagi tetapi Paman Aldamar menyahut terlebih dahulu, “Lalu mengapa kakakmu terlihat di Zaid?”

“Aku tidak tahu, Paman. Sungguh aku tidak tahu,” jawabku lesu. Sejak ayah dan ibuku meninggal, kakakku tidak mempunyai teman untuk bercerita selain aku. Ataukah aku bukan pendengar yang cermat?

“Jadi, kau akan ke Zaid?” tanya Vyriel lagi buru-buru sebelum ayahnya sempat menyelanya lagi.

"Ya, tetapi aku tidak akan menggunakan kereta. Kami tidak boleh menggunakannya walau keadaan tidak memungkinkan sekalipun. Itu aturan kami. Dan meskipun kelompokku sudah tidak ada, aku masih seorang gipsy."

"Mengapa?"

"Karena kereta akan mengubah kepribadianmu menjadi seseorang yang manja. Cukup menyediakan uang dan tidak ada usaha. Kami dilatih untuk hidup di alam liar. Anggap saja ini suatu latihan, Vyriel. Ketika kau diharuskan menghadapi sesuatu yang lebih berat, kau tidak akan merengek-rengek nantinya."

"Aku tidak bisa melihat sisi latihannya. Aku heran mengapa kalian masih bertahan sampai saat ini," dengus Vyriel.

“Hmm, begitu ya. Perlu diperjelas bahwa Paman tidak bisa meninggalkan Silon,” timpal Paman Adalmar, “Tetapi aku tidak akan membiarkanmu sendirian pergi kesana, Kana.”

“Aku akan menemaninya!” seru Vyriel.

“Kau tidak cukup berpengalaman untuk melakukan perjalanan, Vyriel Lerevient. Apalagi kalau teman perjalananmu adalah seorang cleric,” tegas Paman Adalmar. Kerutan di wajahnya sekarang lebih tampak menonjol dibandingkan dengan saat dia sedang memikirkan sesuatu.

Vyriel tertawa, “Kana bisa menyembuhkanku jika aku terluka melindunginya.”

Bibir Paman Adalmar mengerucut pertanda cemberut, “Apa kata ibumu nanti kepadaku jika aku mengijinkanmu.”

“Ibu pasti akan setuju denganku, Ayah. Ibu sudah lama menginginkan ku mencicipi dunia luar. Aku bukan anak kecil lagi,” elak Vyriel yang masih tergelak.

“Aku tidak butuh orang yang menemaniku, Paman. Aku melakukan perjalanan dari Hutan Kematian sampai Silon seorang diri. Pergi ke Kota Zaid pun tidak dapat mengalahkan bahayanya perjalananku sebelumnya,” tukasku mengambil Saturn Mace kesayanganku, siap untuk memulai petualangan.

Paman Adalmar menahanku, “Baiklah. Kau boleh ikut bersamanya, Vyriel. Dan Kana, tolong jangan menolak keramah-tamahan kami. Vyriel akan mengantarmu sampai Kota Zaid.”

“Tapi Paman, akan lebih baik jika…”

“Tidak, tidak. Sekali tidak tetap tidak, Kana,” potong pria tua itu.

Aku menimbang-nimbang sejenak. Dengan adanya Vyriel bersamaku, aku tidak bisa berlari secepat yang aku inginkan. Dia harus berhenti untuk makan dan beristirahat sedangkan aku tidak, ramuan yang diberikan ibuku bisa menghalau semua nafsu makan dan lelah itu. Sayangnya, ramuan itu tinggal satu kali teguk lagi yang tidak bisa kubagi dengannya. Sial. Tetapi Vyriel dapat membantuku mencari kakak di kota besar seperti Zaid. Aku tidak dapat mencarinya seorang diri.

“Boleh juga.”

“Bagus. Tapi sebelumnya, Vyriel, kau harus mampir ke suatu tempat sebentar,” kata Paman Adalmar kepada Vyriel, mengedipkan sebelah matanya.

“Ya, tentu. Kita akan mengunjungi teman lama,” ujar pria berbaju dengan sisik berwarna emas sebagai hiasannya itu membalas kedipan mata ayahnya.

Lanjut ke chapter 2 : Cerita-Cerita

Seal Online Fanfiction by milkteddy © 2009
Fanfiction Heart of Sword SUMBER
.
Share this article :