Fanfiction SEAL Online (Heart of Sword) Chapter 4: Nora Valiria

Home » , , , » Fanfiction SEAL Online (Heart of Sword) Chapter 4: Nora Valiria
Cerita ini di adaptasi dari Seal Online yang berlatar belakang dunia Shiltz.

Chapter 4: Nora Valiria


Aku bergidik. Aku meremas botol vodka di tanganku. Hujan sudah mereda dan meninggalkan kubangan-kubangan air di tanah yang basah. Aku duduk beralaskan dedaunan yang dipetik oleh Vyriel. Badanku tidak kunjung menghangat walaupun baju yang kukenakan telah mengering.

Suara seorang perempuan *****ah keheningan, “Jadi, dia sepupumu, Vyriel? Aku tidak tahu kau mempunyai sepupu seorang gipsy.”

“Ya. Ini belum menjadi rahasia umum. Aku sama sekali tidak heran kau menodongnya tadi. Hahaha,” tawa Vyriel yang disusul oleh Nora, clown cantik disampingnya.

Aku mengerling ke arah Nora. Ia berpostur tubuh mungil dan berkulit putih. Rambutnya panjang berwarna pirang yang diikat menjadi satu di ujungnya. Sebuah Spike Dagger disematkan di pinggangnya dan lambang Lion Crest dijahit di baju Suit of Art nya. Lambang kepercayaan Tuan Arus, ia pasti salah satu orang yang diandalkan di kastil.

“Hahaha. Maafkan aku, Kana, telah mencurigaimu akan membunuh Vyriel. Banyak gipsy yang menyerang penduduk lokal secara tiba-tiba, apalagi Vyriel adalah seorang bangsawan. Tidak heran aku mencurigaimu. Memang aku seharusnya berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Caleb selalu mengingatkanku tentang kebiasaanku ini, tetapi kupikir ini menyangkut nyawa Vyriel. Jadi, aku memilih mempercayai naluriku daripada mempertimbangkannya matang-matang. Lebih baik salah bukan daripada aku menyesal kemudian?” jelas Nora.

“Tidak apa-apa, Nora,” jawabku, mengelus-elus leherku yang mungkin saja ditebas olehnya jika Vyriel tidak cepat-cepat datang. Aku kembali bergidik. Kejadian itu masih menghantuiku.



“Hei wanita gipsy, jika kau ganggu Vyriel maka aku akan membunuhmu!” desisnya.

“Apa? Siapa kau? Lepaskan aku!” gumamku tidak bisa berbicara karena ia mendekap mulutku.

“Tidak usah mengelak, aku tahu siapa dirimu,”

Aku meronta sekuat tenaga tetapi tangan kecilnya tidak bergeser sama sekali. Aku menyesali kecerobohanku meletakkan gada ungu kesayanganku secara sembarangan. Sial! Mengapa saat aku membutuhkannya, Saturn Mace tidak ada di sisiku. Aku berusaha mengingat-ingat dengan cepat dimana terakhir kali aku menyimpannya. Ah! Bagaimana aku bisa melepaskan diri darinya? Aku terus memutar otakku sementara clown itu menekan daggernya yang menempel di leherku.

“Mengakulah cleric kecil. Jika kau mengakui perbuatanmu, hukumanmu tidak akan terlalu menyusahkanmu,” ancamnya.

Aku berbisik pelan, “Cleansing.”

Seberkas sinar hijau terang memancar dari tubuhku. Perempuan itu mengerang, melepaskanku dan menjauh. Ia menutupi matanya yang sempat buta sesaat karena silau. Aku memanfaatkan kesakitannya untuk berlari menuju ke tempat tumpukan barang-barang.

“Wind Rush!” teriakku parau.

Aku melesat dengan cepat, menyambar senjataku. Aku membalikkan badanku dan mendapati clown itu berhasil menyusulku. Ia menudingkan daggernya padaku.

“Dual Jumping Dagger!”

Dua kilatan yang menyerupai bulan sabit mengejarku. Aku mencoba menghindar tetapi gerakan tubuhku tidak bisa menyamai kecepatan daggernya. Aku terpelanting kebelakang, pipi kananku meneteskan darah.

“Self Cure,” sahutku pelan. Lukaku menghilang.

Aku sibuk melindungi tubuhku dengan skill-skill yang kupelajari, tanpa kusadari sekonyong-konyong wanita itu berdiri beberapa kaki dariku. Badannya setengah membungkuk. Mulutnya berkedut menampakkan sederet giginya. Ia mendesis.

“Kemari kau bocah tengik!” perintahnya.

“Aku tidak melukai Vyriel. Aku saudara sepupunya,” jelasku terbata-bata.

Ia tidak mau mendengarkanku. Kakinya yang lincah melompat keatas dua kali, menggunakan salah satu pohon untuk berpijak dan menerjangku. Aku melambaikan gadaku kebelakang, membentuk serangkaian gerakan pertahanan. Ketika tubuhnya akan mendarat, aku menyentuhkan ujung Saturn Maceku ke dadanya.

“Blessed Swing!” seruku.

Sebuah bola cahaya meledak dan clown itu terjerembab ke tanah keras dibawahnya, tidak bergerak. Aku terkejut. Aku tidak percaya bahwa aku bisa menumbangkan dia dengan mudahnya. Aku yakin sekali bahwa dia sangat kuat. Tapi apakah benar dia mengenal Vyriel? Bagaimana aku menjelaskan padanya ketika ia kembali nanti?

Tiba-tiba aku merasakan tubuhku melemah. Aku terhuyung kesamping, mendarat pelan pada salah satu semak yang tajam. Aku menyapukan tanganku ke bahuku, sebuah luka baru menghiasinya. Mengapa hanya gara-gara sebuah luka kecil ini, tubuhku melemas? Aku memilah isi ranselku dan menemukan sebuah botol biru kecil pada kantung paling bawah. Tinggal satu botol. Setelah ini aku tidak dapat melontarkan sihirku lagi. Semoga potionnya cukup untuk menyembuhkanku. Cepat-cepat aku membuka tutupnya, tidak sabar untuk meneguknya. Disaat yang sama, sepasang tangan mencengkeram bahuku dan tanpa sadar aku menjatuhkan botol itu. Aku menunduk menggapai-gapai, mencegah ramuannya tumpah sia-sia. Dan ketakutan menjalari badanku.

“Poisson Dagger itu tidak akan bertahan lama,” kekehnya. Ia mengintariku dan menarikku kedalam pelukannya, “Tetapi cukup lama untuk bisa membunuhmu.”

Aku terkesiap dan lagi-lagi menyumpahi ketidaktelitianku. Aku tidak berdaya ketika ia mempererat pelukannya.

“Mungkin akan lebih baik jika aku bisa mempercepat penderitaanmu,” pikirnya.

Sesuatu yang dingin dan keras menghantam leherku. Darah yang segar mengucur pelan. Jantungku yang berpacu sangat cepat kemudian melambat seiring dengan berjalannya waktu. Samar-samar kudengar ia melagukan sebuah puisi, yang terdengar ditelingaku seperti puisi kematian. Sanggupkah aku bertahan? Mengapa Vyriel begitu lama? Mengapa wanita ini menyerangku? Mengapa wanita ini tidak mau mendengar penjelasanku? Ada hubungan apa antara wanita ini dengan Vyriel?

Kesadaranku mulai menghilang. Penglihatanku kabur. Yang bisa kuingat saat itu adalah Vyriel menghambur padaku, menyentakkan tubuhku kedepan dan kebelakang seperti boneka dan meminumkan sebotol potion untukku. Suaranya terdengar nyaring sekali di telingaku, membuatku tetap terjaga.
“Kana!” pekiknya.
“Kana!” ulangnya sekali lagi.
“Kana tetaplah bersamaku!” sambungnya.



“Kana… Kana…” panggil Vyriel, “Kau tidak apa-apa?”

Aku tersadar dari lamunanku dan tidak mengindahkan panggilan sepupuku itu seolah-olah tidak terjadi apa-apa, “Omong-omong, kau belum menceritakan siapa dirimu. Tidak adil bagiku, kau sudah mengetahui siapa aku sedangkan aku tidak.”

“Ah, ya tentu saja,” lanjut clown tersebut. Ia bergeser dari tempat duduknya, “Aku Nora Valiria. Aku adalah sahabat Vyriel. Aku kekasih Caleb dan sekaligus tunangannya.”
Nora menegakkan badannya, menyisir rambutnya. Senyum bangga terukir di wajahnya. Ia memutar cincin emas yang tersemat dijarinya yang manis.

“Beruntung sekali Caleb mendapatkan perempuan cantik sepertimu,” pujiku.

“Hahaha. Terima kasih, Kana. Tetapi aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau tidak dibesarkan di dalam kastil?”

“Tidak,” sela Vyriel, “Mungkin kau mengenal kakaknya, Halvar Fathius.”

“Halvar? Kalau tidak salah ingat, aku pernah bertemu dengannya ketika Lady Sofia dan Lady Celine mengundangku makan malam. Kejadian itu sudah lama sekali. Kau ada disana bukan saat itu, Vyriel?”

Tubuhku menegang ketika nama ibuku disebut-sebut. Vyriel kembali melanjutkan, ”Ya, beberapa minggu setelah itu, Paman Ivor dan Bibi Celine pergi dari kastil.”

“Kalau begitu bagaimana kau bisa mengenal Kana? Dan bagaimana kau dan Caleb menjadi teman dekatnya jika kalian tidak pernah bertemu?”

Kali ini aku yang menjawab pertanyaan Nora, “Aku dan kakakku pernah dititipkan di kastil untuk waktu yang cukup lama saat kedua mendiang orangtuaku meneliti sesuatu.”

“Oh, begitu. Caleb tidak pernah menceritakannya kepadaku. Mengungkit-ungkitnya pun tidak,” desah Nora.

“Aku yang memintanya, Nora. Maafkan aku. Itu bukan sesuatu yang bagus untuk dibicarakan. Apalagi kau tahu kalangan bangsawan sangat gemar menggunjing,” tutur Vyriel. Sepupuku itu mengambil roti di ranselnya, membaginya menjadi tiga bagian, “Oh iya, apa yang kau lakukan disini, Nora?”

“Aku mencari Ninja Necklaceku. Benda itu terjatuh saat aku mengendarai valkyrieku,” ceritanya.

Vyriel merogoh kantongnya, “Apakah benda ini yang kau maksud?”

Mata Nora berbinar-binar dan kelegaan memancar darinya, “Kau menemukannya! Dimana, Vyriel?”

“Di dekat lembah itu,” tunjuk warrior itu.

“Baguslah,” Nora mengambil kalung hitam itu dan memakainya kembali, “Ini pemberian dari Caleb. Ia menempa kalung ini dengan tangannya sendiri. Jika benda ini hilang, matilah aku.”

“Jangan konyol. Caleb tidak akan membunuhmu. Caleb bisa membuat lagi kalung-kalung seperti itu sebanyak yang kau butuhkan dan yang kau minta.”

Nora menatap Vyriel dengan tajam, “Menyimpan benda-benda yang diberikan Caleb itu termasuk salah satu cara menghargainya, Vyriel Lerevient.”

“Terserah dirimu lah,” timpal Vyriel.

“Bagaimana jika sekarang kita melanjutkan perjalanan? Hujan sudah reda dan pakaian kita sudah mengering. Lagipula kesalahpahaman diantara kita sudah diluruskan,” potongku.

Nora menggerakkan kepalanya, “Kau benar. Kemana tujuan kalian berdua? Semoga kita menuju arah yang sama.”

“Madelin,” sahut Vyriel cepat.

Nora tersenyum senang, “Bagus. Aku juga akan pergi kesana. Mungkin sekarang Caleb sudah menuntaskan urusannya dan menungguku di pintu gerbang.”

“Nora, apakah kau membawa salah satu Magic Orb, milik Caleb atau mungkin milikku, bersamamu?” tanya Vyriel.

“Sepertinya begitu,” jawab Nora tidak yakin seraya mengaduk-aduk tas kainnya, ”Ah, ini dia.”

Clown itu mengulurkan sebuah benda seperti bola kaca peramal. Cahaya biru berpendar dari bola itu, memancarkan sinar yang hangat.

“Bagus. Dan kau tentu membawa Ring of Heaven bersamamu kan?”

“Ya tentu. Aku selalu membawanya.”

Kali ini Nora mengeluarkan sebuah cincin emas raksasa yang menyerupai gelang. Sebuah gambar rumit terukir pada mata cincin itu.

“Tapi Vyriel, kau kan tidak mempunyai pet tipe bird bukan?” tanyaku curiga kepada sepupuku.

“Konyol. Aku selalu melepasnya dan menyimpannya untuk digunakan disaat yang tepat,” bela Vyriel. Ia menunjukkan hatchling, seekor naga biru di genggamannya.

“Kau yang konyol. Mengapa kita tidak menunggang guardian saja dari Silon? Mengapa kita harus berjalan kaki segala?”

“Kau yang membuat segalanya menjadi rumit. Kita seharusnya bisa memanfaatkan fasilitas kereta kuda dan tidak perlu berjalan kaki ataupun mungkin dengan guardian. Tapi kau dan aturan gipsymu itu menghambat semuanya,” seru Vyriel.

“Tapi kami boleh menunggang guardian. Jika kau dari awal mengatakan padaku kau mempunyai guardian, kita tidak perlu berjalan kaki seperti ini,” balasku.

“Guardian milikku kutitipkan pada Nora. Lagipula siapa yang bilang padaku bahwa berjalan melatih kepribadian kita agar tidak manja?”

“Stop! Jangan bertengkar kumohon. Waktunya sangat tidak tepat sekali. Kita sangat terburu-buru. Malam sudah larut sekali. Gerbang Madelin sebentar lagi ditutup. Kalian bisa melanjutkannya setelah kita sampai di Madelin,” sela Nora.

Kukunci mulutku rapat-rapat. Aku tidak ingin terlihat bodoh di hadapan Nora. Aku melototi warrior itu dan begitu pula Vyriel. Ia menggenggam Magic Orb kuat-kuat hingga buku-buku jarinya terlihat jelas. Nora terlihat puas dan menempelkan valkyrie miliknya pada Ring of Heaven. Terdengar bunyi pop pelan dan seekor burung putih raksasa muncul di hadapan Nora. Clown itu dengan mudah memanjat burung itu.

Vyriel juga tidak mau kalah. Ia menyentuhkan hatchlingnya dengan Magic Orb. Pop. Seketika hatchling itu berubah menjadi Winged Carriage, sebuah guardian kapal bersayap yang mungil. Sayap putih mengepak pelan di sisi kanan dan kiri buritan kapal dan sebuah lampu minyak tergantung di ujungnya.

“Ayo naik, Kana. Kapal ini bisa mengangkut dua orang,”

“Apakah kau yakin?”

“Ya, kupikir begitu,”

Aku melompat keatas kapal, “Kau benar. Tapi disini sempit sekali.”

Vyriel tidak menanggapi keluhanku. Ia menata barang-barang diatas tumpukan senjata-senjata dan mengeceknya. Nora menoleh, “Apa semua siap? Ayo kita berangkat!”

Guardian-guardian melaju dengan kecepatan penuh. Pohon-pohon berkelebat di sekitarku. Angin dingin menerpa dan aku merapatkan jubah gipsyku. Tidak lama kemudian, samar-samar terlihat ujung-ujung bangunan kota Madelin yang berwarna-warni. Lampu-lampu kota tampak berkilauan dari jauh dan musik-musik mulai terdengar. Seorang pria tegap berdiri di depan gerbang Madelin. Sandalphone’s Hammer yang dibawanya bersinar dibawah sinar bulan purnama.

“Caleb!” teriak Nora. Ia segera turun dari valkyrie tunggangannya dan menghambur kearah tunangannya itu. Dipeluknya dan diciumnya Caleb dengan sekali sapuan bibir. Pipi Caleb merona merah, begitu pula Nora.

“Halo, Nora,” sapa craftsman itu, “Halo, Vyriel. Halo, Kana, jika kau masih mengingatku.”

Aku terdiam. Kata-kata yang ingin aku utarakan tertahan di tenggorokanku. Akhirnya aku berhasil mengeluarkannya dengan nada yang serak, “Halo, Caleb. Lama tidak bertemu.”

“Kau tidak berubah, Kana,” kata Caleb, mengamatiku dari bawah hingga atas. Aku merasa malu karena sudah dua hari bermandikan lumpur dan air hujan. Ah, raut mukanya dan caranya ia memandangku, pasti tampangku buruk sekali.

“Kalian bisa membersihkan diri dan beristirahat dirumahku,” tawar Nora. Vyriel dan Caleb menggangguk setuju. Nora menoleh kepadaku. Clown itu menunggu jawabanku.

“Kau mempunyai rumah di Madelin? Apabila tidak merepotkan, aku senang sekali kau menerimaku di rumahmu.”

“Hahaha. Aku memang tinggal di Madelin, Kana. Aku tidak tinggal di Elim seperti Caleb atau Vyriel.”

“Oh, maaf, ku kira kau tinggal di rumah para bangsawan.”

“Tidak, aku bukan keturunan bangsawan seperti kalian,” aku Nora.

“Tapi, Lion Crest di bajumu itu?”

Caleb tertawa, “Tentu saja Nora mendapatkannya dengan susah payah. Ia bersaing dengan ksatria-ksatria lainnya yang ingin mencari muka di hadapan Tuan Arus.”

“Sudah, hentikan, Caleb. Itu cerita lama. Ayo kita bergegas. Malam semakin larut,” ajak Nora.

Aku termenung sesaat, “Sebenarnya aku tidak ingin menolak kebaikan kalian, tetapi bisakah aku berbicara dengan Vyriel sebentar?”

“Kau bisa berbicara dengannya semalaman, Kana, jika kau mau. Setelah kita sampai di rumah Nora tentu saja,” ujar Caleb lembut.

“Sebentar saja. Ini sangat penting sekali,” pintaku.

Caleb dan Nora saling beradu pandang. Aku menarik baju Vyriel dan membawanya pergi menjauh dari Caleb dan Nora. Aku berbisik pelan di telinganya, “Tolong pahamilah bahwa kakakku mungkin saja berkemas pergi dari Zaid saat aku bersantai di rumah Nora. Apa maksudmu bertemu dengan teman lama, Vyriel? Apakah teman lama itu adalah Caleb?”

“Hahaha. Sayang sekali kau salah, Kana. Teman lama itu bukan Caleb. Kita hanya kebetulan saja bertemu dengan Caleb dan Nora disini. Aku tidak pergi membawamu kemari hanya untuk bertemu dengan Caleb,” jelas Vyriel.

“Lalu siapakah dia?”
Caleb dan Nora bergerak-gerak gelisah di belakangku berharap dapat mendengar pembicaraan kami.

"Lady Shina. Kau ingat dia?”

Aku memutar otakku dan tidak menemukan sedikit ingatan apapun yang tersisa. Aku menyerah.

“Kau bodoh sekali, Kana. Entah bagaimana kau bisa lupa dengannya. Dia peramal paling hebat di Madelin.”

Aku membiarkan Vyriel mengejekku, “Dan apa hubungannya antara peramal dan pergi ke Zaid?”

Vyriel memutar bola matanya, “Sekali bodoh tetap bodoh. Lady Shina bisa memberitahu posisi kakakmu. Pikirkan saja! Jika kita pergi ke Zaid dan kakakmu telah pergi. Sia-sia saja kita kesana. Kemana kita harus mencarinya? Kita tidak dapat menemukan petunjuk lagi. Bukankah lebih baik jika kita menemui Lady Shina dan bertanya padanya? Itu akan menghemat tenaga dan waktu kita untuk mencarinya.”

Aku mengerang, “Kali ini kau pintar, Vyriel. Senang bisa bekerja sama denganmu.”

“Yap. Itulah aku. Selalu pintar,” sombong Vyriel.

“Bagaimana jika kita menemui Shina sekarang?”

Warrior itu terkejut, “Sekarang?”

“Ya, sekarang, Vyriel yang pintar,” ejekku.

“Kau bercanda, Kana. Lihatlah diriku. Lihatlah dirimu. Kita sama-sama lusuh. Kita perlu membersihkan diri,”

“Apa Shina menolak orang lusuh masuk ke tendanya?”

“Hmm,” Vyriel menimang, “Tidak juga sebenarnya,”

“Kalau begitu ayo kita berangkat,” paksaku.

“Mengapa kau selalu terburu-buru sih?” kata Vyriel sedikit jengkel melihat kelakuanku.

Aku melipat tangan diatas dadaku, “Paman Adalmar hanya menyuruhmu menemaniku ke Zaid, bukan ke Madelin. Tetapi kau sekarang membawaku kemari. Kau harus bertanggung jawab.”

Vyriel berkata lemah, “Kana, tidak bisakah aku bertanggung jawab besok pagi setelah kita beristirahat?”

“Tidak,” jawabku mantap.

“Oh, demi dewa-dewi Shiltz. Baiklah Lady Kana Shevaunt, apapun permintaanmu akan kukabulkan,”

Vyriel berbalik dan berbincang-bincang dengan Caleb dan Nora. Aku bersandar di Winged Carriage sambil memperhatikan mereka. Kulihat Caleb dan Nora mengendikkan kepala mereka tanda setuju dan Vyriel menghampiriku, “Ayo, Kana. Kita tidak punya banyak waktu lagi. Bersiap-siaplah mendapat kecupan selamat malam dari Lady Shina,”

Lanjut ke chapter 5 : Teman Lama
Seal Online Fanfiction by milkteddy © 2009
Fanfiction Heart of Sword SUMBER
.
Share this article :